Arti Sebuah Kegagalan

Dalam cerpen berjudul "arti sebuah kegagalan" berikut ini kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran berharga mengenai nilai yang ada dalam sebuah cobaan atau ujian dalam berusaha. Ternyata, dalam setiap kegagalan pasti ada sisi positif yang sebenarnya akan memberikan dan menghantarkan kita pada posisi yang lebih baik lagi dari posisi sebelumnya.

Itulah yang digambarkan dalam kisah berikut, benar-benar sebuah pengalaman dan guru yang sangat berharga yang tidak didapatkan oleh semua orang. Buktinya, tidak semua mampu mengambil hikmah atas kejadian buruk yang dialami. Tidak semua bisa mengambil sisi positif dari kejadian atau hal yang tidak diinginkan. Maka dari itu dibalik cerpen tentang arti kegagalan ini ada pesan moral yang sangat penting untuk kita renungkan.

Cerpen mengenai usaha berikut mengisahkan seorang pengusaha muda yang akhirnya harus hancur, gagal mengembangkan dan membuat usahanya maju. Salah satu penyebabnya mungkin karena terlalu banyak bidang yang dikerjakan oleh pengusaha tersebut sehingga pada akhirnya ia harus sadar dan pasrah untuk menjalani dan serius dalam satu usaha. Seperti apakah kisah selengkapnya dalam cerita tersebut?

Arti Sebuah Kegagalan
Oleh Irmajajil

Apakah sukses itu berarti harus melewati ribuan rintangan dan kegagalan? Memang, semua orang sukses mengatakan bahwa kesuksesan adalah buah dari kegagalan tapi apakah harus sebanyak ini kegagalan yang aku alami? Lalu apakah aku salah jika merasa putus asa dan menyerah setelah sebuah yang aku hadapi?

Berbicara itu lebih mudah dari melakukan, berusaha itu lebih sulit dari merencanakan. Sampai saat ini sebagai seorang wirausaha aku belum mampu mengambil hikmah dari setiap kegagalan yang aku alami. Entah karena kegagalan tersebut begitu bertubi atau karena aku memang belum mampu, entah-lah.

“Omset penjualan terus menurun drastis mas, bahkan sekarang untuk gaji karyawan saja kita tidak cukup”

“Ya sudah pak, tolong dibereskan semua tanggungan untuk karyawan kita, setelah itu sementara kita hentikan dulu produksi…”

“Sampai kapan mas…”
“Sampai kondisi memungkinkan pak…”

Pahit rasanya menghadapi kenyataan bahwa usaha yang kita bangun dengan susah payah akhirnya harus terhenti. Tapi begitulah, dua tahun terakhir ini dua usaha utama kami sudah hancur. Kini hidupku hanya mengandalkan satu usaha yang tersisa yaitu usaha bakso yang omsetnya juga tak begitu memadai.

“Mas, ada pesaing baru yang sangat berpengaruh terhadap penjualan kita…”
“Dimana itu…?”

“Di kota sebelah si mas, tapi imbas-nya sampai ke kita…”
“Baiklah pak, kali ini saya tidak mau kecolongan, saya minta bapak mengevaluasi kinerja bakso kita serinci mungkin…”

“Baik mas….”
“Secepatnya pak, saya tidak ingin bakso ini gulung tikar, kasihan teman-teman lain…”

“Baik mas, secepatnya hasil evaluasi akan saya berikan…”

Kalau menghadapi situasi sulit semacam ini kadang aku ingat dengan pesan dari seorang sahabat lama dulu, ia begitu mengenal ku sampai akhirnya pernah ia berkata “kapan kamu serius di satu titik? Kemampuan manusia itu ada batasnya, jangan serakah…”

Ia berkata demikian karena saat itu ia tahu aku menggenggam banyak hal sekaligus di kedua tanganku. Katanya usaha ku terlalu banyak dan satu sama lain sangat berbeda sehingga sangat menguras pikiran. Ia menyarankan untuk fokus pada satu bidang pekerjaan saja. 

Mungkin ia benar, bahwa seberapa kuat pun aku pasti tidak bias menangani semua hal sekaligus, buktinya beberapa usaha yang aku kelola kini hancur semua dan usaha bakso inilah satu-satunya yang tersisa.

Sebenarnya aku sudah setengah menyerah, aku sudah hilang arah tapi jika melihat mereka yang bekerja di warung bakso milikku aku jadi merasa tak tega. Beberapa bulan lalu saja aku susah memecat lebih dari 100 karyawan, mereka menjadi pengangguran.

Tak ada pilihan, mau tidak mau, suka tidak suka aku harus menjalankan usaha ini dengan baik karena inilah satu-satunya yang tersisa dari kegagalan yang terjadi padaku. Ya, setidaknya inilah arti sebuah kegagalan dimana aku bias lebih fokus dan memiliki waktu yang lebih banyak untuk mengembangkan satu usaha yang aku jalani. 

Dengan kondisi seperti ini kini aku mencurahkan semuanya hanya untuk satu bidang usaha makanan. Mungkin begitulah arti sebuah kegagalan bagi hidupku. Hal ini ternyata membuatku memiliki banyak waktu luang dalam mengelolanya dengan baik. 

Sekarang aku memiliki waktu untuk melakukan evaluasi, aku memiliki kesempatan yang banyak untuk mengembangkan ide dan gagasan brilian. Aku tak akan kalah untuk kali ini, jika tetangga sebelah yang baru berdiri saja sudah dapat meraih pasar yang begitu luas kenapa aku tidak?


---Tamat ---

Back To Top