Puisi Pendek Sahabat, Mendekap Rindu Menanti Teman yang Pergi ke Rantau

Puisi Pendek Sahabat, Mendekap Rindu Menanti Teman yang Pergi ke Rantau – puisi untuk sahabat yang jauh di rantau berikut ini sengaja dipersembahkan untuk rekan semua yang sedang kangen dengan teman sejatinya.

Mendekap Rindu Menanti Teman yang Pergi ke Rantau

Sedang, tidak terlalu panjang, tapi makna-nya itu mungkin akan membuat kita menangis semalaman. Yang namanya kangen, tidak enak. Jelas akan selalu terbayang, akan selalu dipikirkan. Bahkan dalam semua keadaan sekalipun.

Seperti itu juga jika kita memiliki sahabat yang terpisah jauh. Kedekatan yang sebelumnya kita rasakan tidak bisa lagi kita nikmati.

Kebersamaan terasa dalam mimpi, keinginan untuk kembali merajut untaian keindahan tersebut kadang membuat dada sesak. Pernah anda mengalami hal seperti itu? Pernah. Semua orang mungkin pernah punya sahabat yang sangat di rindukan. 

Entahlah, tidak ada jaminan puisi ini akan sesuai dengan anda. Tapi, setidaknya, semoga puisi ini bisa mengobati sedikit kerinduan kita. Teman, mudah-mudahan kita bisa segera berjumpa lagi. Seperti dahulu. 

Mendekap Rindu Menanti Teman
Puisi Untuk Sahabat

Deru ombak bersahut
Angin mengoyak rambut
Tergerai melambai ke lautan
Menunggu, menantimu
Kapan kau pulang

Ku duduk disini akhir pekan
Setia menanti
Untukmu di sisi
Kapan kembali bersama
Sudah ku rindu ceria

Sudah ku tunggu derita
Didampingi, teman
Puluhan kali ku titip rindu
Jutaan kali ku rayu bayu
Mengirimmu pulang

Mengajak bercanda ria
Kau tahu
Aku pilu
Kau tahu
Aku ngilu rindu

Cukup pendek juga ya, hanya terdiri dari lima bait dan masing-masing lariknya juga sangat singkat. Kalau dibaca sekilas, sangat jelas apa yang coba digambarkan oleh sang penulis. Untuk mengetahui makna-nya, mungkin kita bisa menghayatinya lebih dalam. 

Apa perlu dibahas lebih jauh? Ada beberapa rekan mungkin hanya membutuhkan contohnya saja tanpa pembahasan yang lebih lanjut. Mungkin saja hanya untuk dipergunakan untuk bahan referensi atau sekedar untuk hiburan.

Lain lagi untuk rekan pelajar mungkin, ada yang membutuhkan penjelasan dari karya puisi sederhana tersebut. 

Nanti kita berikan agar lebih lengkap. Tidak perlu khawatir dan pergi ke situs lain. Kita ikuti saja yang ada disini.

Kita bahas dari judulnya, “Mendekap Rindu Menanti Teman”. Dari judul puisinya jelas sekali tema yang dibahas dalam karya ini adalah tentang kerinduan seseorang terhadap sahabatnya. Pada judul jelas dipakai kata “rindu” yang artinya “kangen” atau ingin bersua dengan seseorang. 

Yang kedua, dari judul kita juga bisa melihat bahwa seseorang, tokoh utama dalam puisi tersebut, sedang menanti atau menunggu kedatangan sahabatnya. 

Bisa dilihat juga bahwa puisi ini membahas mengenai penantian seseorang kepada temannya.

“Deru ombak bersahut”, ini mungkin menggambarkan lokasi atau tempat dimana sang tokoh menanti sahabatnya. Dari larik tersebut maka kita bisa merujuk pada satu lokasi yaitu laut, pelabuhan. 

Tempat yang digunakan untuk menunggu sang sahabat adalah pelabuhan. Hal ini juga dapat dilihat dari beberapa larik yang mengikuti pada bait pertama. Larik tersebut yaitu “Angin mengoyak rambut”, “Tergerai melambai ke lautan”, dan “Menunggu, menantimu”.

Itu tadi sedikit gambaran isi dari karya di atas. Lebih jauh, rekan yang membutuhkan analisis puisi bisa melanjutkan ke bait-bait selanjutnya. 

Masih ada beberapa bait yang intinya juga mendukung isi dari bait pertama. Silahkan di analisa.

Mudah-mudahan sedikit informasi tambahan tersebut dapat bermanfaat. Bagi yang ingin mencari karya lain silahkan cari dikategori puisi sahabat. Ada banyak karya lain yang cukup menarik untuk kita nikmati.

Kalau rekan ada yang ingin mengirim puisi juga boleh. Kalau punya karya sendiri yang menarik, bisa langsung di kirim ke email redaksi. 

Nanti akan dilihat apalah bisa ditayangkan atau tidak. Ya sudah, kali ini itu saja dulu. Silahkan dilanjutkan ke beberapa karya dibagian bawah. 

Puisi Singkat Tentang Persahabatan, Jangan Pisahkan Aku dan Sahabat Terbaikku

Puisi Singkat Tentang Persahabatan, Jangan Pisahkan Aku dan Sahabat Terbaikku – rasa yang sudah menyatu antara dua insan memang sulit dipisahkan. Namanya juga sudah menyatu, meski dalam bentuk wujudnya ada dua manusia namun dalam rasa hanya satu.

Puisi Singkat Tentang Persahabatan, Jangan Pisahkan Aku dan Sahabat Terbaikku

Sahabat, biasanya, akan semakin kuat seiring berjalannya waktu. Anda pernah punya sahabat bukan? Bagaimana rasanya jika sudah satu hati, sakit kalau berpisah bukan?

Karya sederhana kali ini juga akan mengisahkan tentang persahabatan. Karya ini cukup singkat dan sangat sederhana, mungkin juga lebih cocok jika disebut hanya sebagai curhatan hati. Tapi jelas ini tentang dua orang dalam satu ikatan.

Yang ini juga untuk melengkapi yang sudah ada. Dengan demikian, bagi anda yang mencari hiburan dalam bentuk karya sastra bisa memiliki lebih banyak referensi. Yang kita bahas kali ini khusus dalam pilihan tema dari rekan pembaca semua.

Unik dan menarik, seperti apa? Mari kita langsung saja menuju ke kisah dalam karya puisi sahabat di bawah ini. Mudah-mudahan berkenan bagi anda semua. Silahkan dibaca.

Jangan Pisahkan Aku dan Sahabat Terbaikku
Puisi Singkat Sahabat

Jangan, tidak boleh
Aku tersungkur, sedih
Bagaimana mungkin. Aku dan dia satu
Kami tumbuh bersama. Meski berbeda

Status sosial, membelah
Menyayat tarikan tangan kuat
Ayah, meradang
Melarang beda kelas

Ah…
Diam tanpa kata
Bisu melemparkan kecewa
Di raut itu ada ragu, takut

Urakan, tak berpendidikan. Jauhi
Dia manusia. Kumuh
Bukan mutiara, sahabat
Dewa penolong, teman

Enggak usah panjang-panjang ya, susah buat puisi. Setidaknya mungkin puisi di atas bisa meleparkan rindu kita pada sahabat kita. 

Ternyata, dalam hubungan pertemanan atau persahabatan juga tidak lepas dari kerikil tajam.

Terjal, kadang jalan yang dilalui juga sangat menguras tenaga. Tapi yang namanya sahabat kan bisa dikatakan bak kumbang dan bunga, tak bisa dipisahkan.

Ada cinta, tentu saja, yang jelas perasaan saling memiliki dan saling membutuhkan ada dalam hati. Tapi begitulah, namanya kehidupan. Kadang status sosial membuat orang tidak bisa leluasa bergaul.

Kadang, anak-anak menjadi korban ketakutan yang berlebih. Mereka juga manusia bukan, sama dengan yang lain. Keterbatasan dan nasib yang kurang berpihak tidak bisa dijadikan alasan untuk menjauhinya. 

Itu saja, semoga puisi persahabatan di atas bisa membuka mata kita semua tentang arti sahabat. 

Sahabat adalah belahan jiwa, yang akan selalu berkorban bagi kita. Selalu ingat dia, kenanglah dia. Jangan sampai ia berlalu dari angan dan pikiran kita.

Puisi Sederhana Tentang Persahabatan, Berkenalan dengan Teman Baru

Puisi Sederhana Tentang Persahabatan, Berkenalan dengan Teman Baru – bahagia itu bersama teman atau sahabat. Bercanda ria, berbincang bahkan berdialog tentang hal-hal yang diluar nalar, semua terasa indah.

Puisi Sederhana Tentang Persahabatan, Berkenalan dengan Teman Baru

Keindahan sebuah persahabatan itu bisa dilihat dari berbagai sisi, tentu oleh orang yang tahu apa artinya sahabat. Semakin banyak sahabat maka akan semakin berwarna hidup ini. ContohCerita kali ini akan mengajak anda untuk menikmati sebuah karya amatir tentang hal tersebut.

Puisi, merupakan gaung hati dan pikiran. Puisi tak hanya menjadi hiburan tapi bahkan bisa menjadi sarana pendidikan. Melalui puisi kita bisa belajar makna hidup dan banyak lagi lainnya.

Karya berikut ini mengambil tema yang sangat dekat dengan remaja yaitu mengenai ikatan kuat antara dua orang atau lebih. Kita akan menyajikan yang sederhana sekaligus sebagai media belajar. 

Judulnya teman baru, puisi ini ditulis oleh admin dan masih jauh dari sempurna. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan bacaan yang bermanfaat. Semoga bisa menjadi sumber inspirasi bagi anda semua.

Berkenalan dengan Teman Baru
Contoh Puisi Sederhana

Pintu terbuka lebar, kelas riuh
Lima menit pelajaran dimulai
Wajah asing menyeruak
Tinggi tegap berambut kelimis, tersenyum simpul

Tak ada bangku kosong
Mematung sejajar meja guru
Puluhan bola mata tertuju
Tegap tak bergeming

Sosok hitam berkumis menapakkan sepatu
Hening, kelas membisu
Perkenalan dengan senyum
Widya Rasa, unik

Sosok itu mengitari kelas
Menjabat tangan satu satu
Hangat, tangannya mengenggam
Percaya diri

Disisi, diletakkannya telapak di atas meja
Tanpa kursi, berdiri memandang ke depan
Tolong carikan kursi, titah guru
Widya mengekor, tak merepotkan

Apa yang digambarkan dari karya di atas sangat sederhana sekali. Ceritanya di sebuah sekolah, di salah satu kelas, ada seorang siswa baru. 

Sesaat sebelum jam pelajaran dimulai, siswa tersebut sudah masuk terlebih dahulu sebelum guru datang.

Karena tidak ada bangku yang bisa ia tempati ia pun menunggu, berdiri di sisi meja bapak guru. Sesaat kemudian sang guru pun datang dan memperkenalkan siswa tersebut.

Namanya Widya Rasa. Setelah dikenalkan, ia langsung berkeliling dan menyalami semua murid. Ia kemudian berhenti di sebuah meja yang tidak ada tempat duduknya. 

Bapak guru pun memerintahkan murid lain untuk mencarikan meja bagi siswa baru tersebut. Seperti tak mau merepotkan, siswa baru itu pun mengikuti murid tersebut untuk mengambil kursi.

Sederhana, sebuah adegan perkenalan yang digambarkan dalam sebuah karya puisi. Mungkin, puisi tersebut menggambarkan awal kisah sebuah persahabatan di mulai. Bagaimana menurut anda semua?

Jelek dan membosankan mungkin. Tapi paling tidak puisi sederhana tersebut bisa digunakan sebagai contoh bagi anda yang ingin belajar membuat puisi. Atau, mungkin ada yang sudah jago dan bisa memberikan komentar.

Singkat saja, bagi yang ingin mendapatkan karya lain silahkan cek dibagian akhir. Masih ada banyak karya lain yang bisa anda nikmati. Semoga berkenan.

Contoh Cerpen Singkat Pendidikan, Di Tengah Suara Knalpot yang Bising

Contoh Cerpen Singkat Pendidikan, Di Tengah Suara Knalpot yang Bising – “Lan… kamu tahu tidak, ternyata anak baru di kelas kita itu adalah anak orang super kaya. Dan yang lebih heboh lagi, ternyata dia itu anggota geng motor. Pasti akan hancur sekolah kita nanti!”, Raya menatap wajah Wulan dengan serius.


“Hati – hati kamu kalau bilang… enggak semua orang itu sama”, jawab Wulan memperingatkan Wulan. “Tapi kan kebanyakan memang begitu, anak geng motor dikenal seperti itu”, Raya mempertahankan argumennya. 

“Korban berita kamu Ray… jangan lihat buku dari sampulnya. Kamu kan tahu itu!”, Wulan semakin tak suka dengan Raya yang berpikiran negatif pada orang yang tidak dikenalnya. “Ya benar juga sih…”, ujar Raya selanjutnya.

“Sudah, lebihbaik kita buru-buru pulang. Nanti sore jangan lupa ke rumahku, kita selesaikan tugas dari pak Mawar. Raya dan Wulan bergegas menuju rumah masing-masing.

Hari semakin sore, anak – anak sekolah sebagian besar sudah pulang ke rumah. Kebanyakan dari mereka sudah sibuk dengan kegiatan belajar masing-masing.

Maklum, sekolah itu adalah sekolah yang cukup terkenal disiplin. Sebagian besar murid disana memiliki kemampuan yang cukup bagus. 

Di sudut gerbang sekolah, tampak terparkir sebuah moge bercat hitam. Di atasnya, duduk seorang remaja berkaca mata hitam – memandang lepas ke seberang jalan. 

Dengan postur bule, remaja tersebut terlihat gagah apalagi di dukung dengan warna kulitnya yang bersih dan bentuk tubuhnya yang berotot. Sesekali ia tampak memainkan ponselnya, menanti sesuatu. 

Lima menit berlalu, terdengar suara knalpot yang menderu. “Woi…. Bro, sorry nih agak telat sedikit….” Tiga orang berpakaian sekolah turun dari motor mereka. “Santai aja bro…”, mereka tampak menikmati kebersamaan tersebut.

Tak lama berselang, beberapa motor pun kembali datang. Mereka berjejer di depan pintu gerbang yang sudah ditutup. Mereka tampak santai dan berbincang satu sama lain. 

Di kerumunan itu, sementara yang lain asyik ngobrol, tampak seorang remaja yang duduk manis di atas motor sambil terus memainkan ponsel android di tangan. Remaja itu adalah Yudha, siswa yang baru saja pindah ke sekolah itu. 

“Oi bro…. dari tadi pacaran sama hp, enggak asyik benar loe nih!”

“Santai aja bro… namanya juga usaha!”

“Bisa aja loe, lagian lihat apa sih. Pasti lihat unyil ya!”

“Hush… loe ini. Jangan memperburuk citra kita sendiri. Loe ingin eksistensi kita hancur!”
“Cie… peduli bener!”

“Ya kalau bukan kita, siapa lagi. Misi kita kan jadi geng motor yang ternama, dikenal di berbagai belahan dunia lain. Kalau urakan dan ugal-ugalan sudah biasa, enggak jaman lagi bro!”

“Cie… !”

“Ya… Yudha benar juga sih. Kalau kita ingin nama kita dikenal di mana-mana, kita memang harus membuat gebrakan. Harus beda.”

“Nah itu dia… motor adalah hobi yang harus membuat kita dihargai.”

“Salah satunya dengan berpretasi. Di berbagai bidang!”

Sekelompok remaja sekolah itu pun saling mengangguk. Pada umumnya mereka semua setuju, mereka ingin dihargai. Di akui. Mereka setuju untuk menjadi geng motor yang beda, yang digandrungi remaja dan anak muda pada umumnya. 

Di atas kuda besi kebanggaan mereka, mereka mengukir impian. Mereka bertekad untuk menjadi terkenal bukan hanya di sekolah mereka masing-masing tapi di kalangan pelajar pada umumnya. 

“Biar orang lain mencibir dan meremehkan kita. Kita buktikan kalau kita layak untuk dijadikan idola mereka!”. Yudha membakar semangat teman-teman lainnya. Mereka pun berpacu dalam prestasi.

Tak seperti remaja lain, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di atas motor. Tapi, di sela-sela kegiatan itu, mereka punya misi tersembunyi masing-masing, membuat gebrakan hingga nama mereka digaungkan.

Waktu berjalan. Musim penghujan terus bergulir hingga hampir berakhir. Pagi itu, anak-anak sekolah menengah atas akan melaksanakan ujian semester. Hampir semua anak sibuk dengan buku dan catatan mereka masing-masing. 

Tidak dengan yudha. Seperti biasa, ia sibuk dengan ponsel di tangan. Ia seolah tak peduli akan ada semester. 

“Eh… kamu ini bukannya belajar!” sapa seorang siswi kepada Yudha yang asyik dengan ponsel. “Kamu sudah belajar?” jawab Yudha santai. Anak itu pun segera berlalu. 

Yudha tersenyum tipis. Dibenaknya ia menertawakan siswi tersebut dan kebanyakan siswi lainnya. “Mereka tidak tahu… tunggu saja nanti”

Benar. Tidak ada yang tahu pasti apa yang Yudha lakukan dengan ponsel yang terus melekat di tangan. Tidak juga dengan para guru. Mereka hanya tahu bahwa Yudha adalah anak yang tidak pernah mau belajar.

Masa ujian semester berlalu. Tiba waktunya bagi seluruh siswa untuk mengetahui hasil jerih payah dan kerja kerasnya selama satu semester terakhir. 

Yudha duduk dibangku belakang dengan tenang. Ia siap dengan hasil yang akan dibagikan. Sauna kelas tiba-tiba riuh. Semua siswa tampak was-was dan penasaran dengan hasil belajar mereka masing-masing. 

Sang guru wali kelas masuk. Kelas menjadi hening. “Hari ini bapak akan membagikan hasil semester kalian” ucap bapak guru tersebut. 

“Kalian pasti tidak percaya dengan hasil yang akan bapak berikan. Bapak sendiri awalnya juga tidak percaya, tapi inilah hasilnya.” Bapak guru itu kemudian terdiam. 

Anak – anak kembali riuh. Mereka tidak sabar ingin mengetahui hasil semester kemarin. “Ayo dong pak… buruan bagikan!” teriak mereka. 

Wali kelas pun akhirnya mengumumkan hasil semester. Beliau mengumumkan siapa yang menjadi juara kelas di semester tersebut. “Yudha… silahkan ke depan”, ucap sang wali kelas.

Kelas tiba-tiba hening. Semua mata beradu pandang. Semua mulai berbisik-bisik, penasaran. “Ah… apa mungkin!” “Ya…. Jelaslah, buktinya bapk Wahyu memanggil nama dia!” seluruh siswa menjadi gaduh. 

“Yudha… adalah juara kelas. Ia mengalahkan kalian semua. Yudha, bisa jelaskan kepada teman-teman kamu bagaimana bisa kamu menjadi juara kelas.

Padahal setahu bapak dan setahu teman-teman kamu, kamu malas belajar…” ucap wali kelas.

“Jangan nilai buku dari sampulnya. Siapa bilang aku malas belajar. Aku rajin belajar pak, bahkan jauh lebih rajin dari siswa lain, tapi bukan siswa di kelas ini. Selama ini aku selalu belajar dengan hp android pak. Aku belajar online.” 

Yudha menjelaskan panjang lebar bagaimana ia belajar. Semua murid tercengang. Mereka tidak menyangka bahwa teman baru mereka itu ternyata pandai dan rajin, meski ikut geng motor sekalipun. 

---oOo---

Cerita Pendek Singkat dan Jelas, Pahit Manis Kehidupan Suci di Rumah Kost

Cerita Pendek Singkat dan Jelas, Pahit Manis Kehidupanku di Rumah Kost – “Woi….! Siapa di dalam, buru gantian…! Udah siang nih!” suara melengking sahut menyahut dengan suara gaduh pintu kamar mandi digedor-gedor.


“Iya… bentar. Sabar napa!”, seseorang di dalam kamar mandi balas berteriak. Tak suka kegiatannya di ganggu.

“Wo…. Kamu lagi… mandi apa tidur sih kamu!” “Ah… bawel kamu. Cepat sana!” suasana pagi di Asrama Putri Sri Menanti selalu saja bersaing dengan pasar tradisional. Teriakan demi teriakan sahut menyatut. 

Ada saja ulah para penghuninya. Ada yang berteriak-teriak karena kesal. Ada juga yang teriak-teriak memekakkan telinga dengan lagu andalan. 

Pusing bukan kepalang, Suci yang baru beberapa bulan tinggal di rumah kost itu tampak murung. Berbeda dengan yang lain, yang sibuk mau berangkat sekolah, Suci duduk di depan kamar.

Kedua tangannya menyangga dagu. Pancar matanya menembus batas dinding tembok. Sekali dua kali ia memeluk kedua lututnya. Kadang ia menutup telinga dengan kedua tangannya. 

Penghuni kost lalu lalang di hadapannya tak membuatnya bergeming. Ia tetap tidak bergairah untuk ikut bererbut antrian mandi pagi.

“Menjijikkan benar sih kelakuan mereka itu!”, Suci menggerutu sendiri sambil melihat mereka berlarian kesana kemari.

“Suci…. Gamu enggak mau ikutan seperti mereka?”

“Ih… ogah ya. Orang kan punya prinsip. Cuma mandi saja berebut kayak anak kecil”

“Memang mereka masih kecil. Buktinya masih sekolah. Lagi pula, kita juga sama-sama masih bau kencur.”

“Kamu tuh bau jigong!”

“Eh… sialan kamu. Tapi memang benar kok… jangan sampai matang sebelum waktunya. Bahaya!”

“Gayamu Nur… kayak orang!”

“Sialan!”

Nur mengisi sebagian kekosongan hati di pagi itu. Teman Suci yang satu itu memang selalu bisa mencairkan suasana yang beku – mengingatkan Suci bahwa ia memiliki tujuan yang harus di capai.

Jam dinding terus berdetak, satu persatu penghuni kost menghilang ke kamar masing-masing. Keramaian mulai surut. “Sekarang giliranku…” ucap Suci lirih. “Eits… siapa duluan…!” Nur yang dari tadi terdiam ikut beranjak.

Sabar mungkin kuncinya, sampai di sana, ada beberapa kamar mandi yang sudah siap menanti Nur dan Suci. Mereka berdua tidak perlu berebut, hanya perlu berpacu dengan waktu kalau ia tak ingin terlambat masuk sekolah.

Menit-menit terakhir itu dimanfaatkan dengan baik, tanpa terbuang. “Suci…. Buruan 10 menit lagi” teriak Nur sembari keluar dari kamar mandi. 

“Sial… tunggu…. Tiba-tiba mules nih…!” jawab Suci. Tantangan pagi harus Suci taklukkan, ia harus berlomba menyelesaikan semuanya secepat mungkin. “Ah… kalau saja kamar mandinya tidak perlu gentian. Repot amat sih hidup di kost!”

Saat kritis seperti itu timbul rasa kesal dengan keadaan. Bahkan kadang Suci mengutuk suasana seperti itu, suasana yang sangat ia benci.

Perjuangan pagi yang melelahkan. Suci selamat – berangkat sekolah tepat sebelum gerbang di tutup. Hanya saja, satu yang tertinggal, pena. “Ah…!” ia sadar bahwa ia melupakan pena di meja belajar.

Tak ada yang istimewa. Semua berjalan seperti rutinitas biasa. Siang, ketika matahari mulai tergelincir, Suci melangkah pulang ke kost-an, sendiri. Beberapa teman lain masih di belakang. Hari itu ia terasa sangat letih. Ia ingin cepat istirahat. 

Pintu kamar di buka. Tanpa melepas sepatu ia segera masuk, membanting tubuhnya di kasur yang digelar di lantai. Dengan kakinya, ia menendang pintu kamar agar tertutup. 

“Ah… inilah surga” ucapnya menikmati keheningan suasana kost. “Kalau seperti ini aku pasti bisa beristirahat dengan tenang…”

Belum sepuluh menit Suci berbaring, ia mulai terlelap, tiba-tiba suara gaduh datang dari luar kamar. “Set dah…” Suci meraih bantal dan menutup telinganya. 

“Hak… hak… hik… hik…” beberapa anak terdengar cekikikan. “Ha… ha… ha…!” suara tawa menggelegar menghancurkan bantal penutup telinga Suci. “Ah….” Suci akhirnya bangun, ia duduk sambil memeluk kedua kakinya. 

Perlahan, ia menarik badannya, menyandarkannya di tembok kamar. Mentari mulai terbenam. Suci lupa makan siang. Badannya lemas, kepalanya terasa pusing. Ia tak mampu bangkit. Wajahnya sedikit pucat. 

Ia berusaha bangun. Meringis menahan kepala yang terasa berputar-putar. Sesaat kemudian, yang ada dalam pandangannya hanya gelap. Kemudian, ia tak ingat apa-apa. Pingsan.

Selepas magrib, ia sudah sadar. Ia tersentak kaget mendengarkan banyak suara anak-anak. Ketika ia membuka mata, ia berbaring dan dikelilingi oleh anak-anak teman se-kost. 

Saat itulah ia terenyuh. Salah satu teman di sisi kiri mengipasinya dengan sebuah buku. Di bagian bawah ada seseorang yang memijit-mijit da nada juga yang sibuk dengan ponsel.

“Oh… ternyata… aku baru merasakan bahwa mereka sebenarnya baik. Bahkan… oh, si Indri yang super bawel itu…” Suci pun tak mengira meski dalam kesehariannya banyak teman-teman di sana seperti cuek dan tidak peduli, ternyata mereka tidak seperti yang Suci bayangkan.

“Aku kenapa…”
“Tadi kamu pingsan… kamu tidak apa-apa?”

“Oh… kepalaku pusing…”
“Ya sudah kita panggilkan dokter saja ya…”

“Oh mungkin dia masuk angin…”

“Iya… kamu sudah makan belum?”
“Em… belum…”

“Nah… kan. Jangan sampai lupa makan Suci… meski sibuk belajar tapi kan kita harus jaga kesehatan!”

“Benar itu, dari pada nanti tidak bisa sekolah karena sakit…”

“Eh… terus, ini bagaimana. Mau ke dokter tidak?”
“Udah… udah enggak usah… aku enggak apa-apa kok!”

Salah satu dari mereka kemudian mengambilkan makanan untuk Suci. Ditemani beberapa orang temannya, Suci pelan-pelan melahap makanan yang disediakan oleh teman satu kost-nya. 

---oOo---
Back To Top