Kumpulan Cerpen Menarik tentang Natal dan Tahun Baru

Cerita cerpen tentang natal dan tahun baru - natal dan tahun baru adalah suasana gembira dan bahagia, apalagi untuk anak muda, remaja. Tahun baru dan perayaan natal biasanya akan ditunggu dan menjadi moment indah bersama orang terkasih. Kisah dalam cerpen kali ini akan memuat seputar tema tersebut, penasaran bukan?


Dari tahun ke tahun yang sudah berlalu tentu saja ada banyak kisah menarik seputar perayaan natal dan pesta tahun baru yang bisa diangkat menjadi sebuah cerpen. Bisa yang berupa suasana kegembiraan, kisah konyol, kejadian lucu bahkan percintaan.

Agar bahan bacaan yang sudah ada semakin lengkap maka kita akan mencoba membuat kumpulan cerpen natal baik yang pendek, sedang maupun yang panjang. Dengan begitu maka tema-tema cerita yang bisa dibaca akan semakin banyak.

Nah, kali ini kita akan membuka koleksi cerpen ini dengan sebuah cerpen yang pendek. Cerpen kali ini berjudul “natal bersama kekasih gelapku”. 

3) Natal kenangan
4) Natal dan tahun baru terakhir
5) Badai di malam natal
6) Natal terindah

Kalau dilihat dari judulnya, cerita ini tentu akan berpusat pada kehidupan remaja muda mudi yang berkaitan dengan natal.

Menarik kedengarannya jika kita melihat judul yang digunakan. Tapi tentu kita belum bisa menyimpulkan bagaimana ceritanya. Makanya dari pada penasaran dan terbawa mimpi, lebih baik kita nikmati saja cerpen tersebut.

Natal Bersama Kekasih Gelapku
Cerpen tentang Natal dan Tahun Baru

Semilir angin malam bandung berhembus membelai lembut kulitku. Sesekali rambutku terurai karena jahilnya hembusan angin. Kubenarkan rambut ku dan aku kembali berjalan menyusuri jalan setapak di kota Bandung. 

Malam ini adalah malam yang begitu istimewa bagiku. Aku sudah membuat janji dengannya untuk bertemu di apartemen tempat biasa kami bertemu. Kupercepat langkahku, hatiku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengannya. 

Menatap wajahnya, membelai rambutnya, dan kemudian bercinta dengannya. Cukup lama aku berjalan, akhirnya aku sampai di apartemen yang aku tuju. Belum sempat aku menekan tombol bel tamu, dia sudah membukakan pintu untukku. 

Akhirnya setelah harus menunggu kurang lebih satu minggu, sekarang aku bisa kembali bertemu dengannya. 

Tanpa ragu ku peluk erat tubuh pria kekar itu. Dengan kumis tipis diatas bibirnya juga lesung pipit saat ia tersenyum, dia benar-benar membuat jantungku berdesir tiap kali bertemu dengannya.

“Ayo masuk dulu sayang..” Ucapnya menyuruhku masuk. Dilepaskannya pelukanku dan dibawa nya aku masuk ke dalam apartemen. Aku hanya tersenyum dan pasrah membiarkan tangannya menggandeng tanganku. 

“Kamu kemana aja si? Kok lama?.” Tanya nya padaku sembari membereskan mejanya.

“Eng.. tadi aku harus nemenin tunanganku dulu, dia minta aku dateng kerumahnya. Terus ngerayain malam natal bareng keluarganya.” Jawabku lembut. 

Dia hanya terdiam tanpa suara. Aku tahu ini memang berat untuknya. Tidak hanya untuknya, tapi juga untukku. Aku sadar mungkin tiap kali aku berhubungan dan bertemu dengannya, ada hati lain yang akan tersakiti. 

Tidak hanya satu hati, tapi ada dua hati yang harus tersakiti. Aku dan Evan bertemu di kampus secara tak sengaja. Awalnya kami hanya berteman biasa.

Tapi setelah lebih 2 bulan kami saling mengenal, rasa cinta bersemi dan tumbuh di hati kami masing-masing. 

Tapi sayang, entah cinta yang datang terlambat atau memang hanya kami yang terlalu naïf dan egois. Saat kami sudah saling jatuh cinta, masing-masing dari kami sudah memiliki kekasih. 

Aku punya kekasih dengan hasil perjodohanku, sementara dia juga sudah punya kekasih yang menjalin hubungan dengannya sejak SMA. Kami berdua sebenarnya sadar sepenuhnya, hal ini adalah sebuah kesalahan. 

Kami tidak bisa meninggalkan mereka, tapi kami juga tidak bisa menahan gejolak cinta yang bersemi dengan tiba-tiba ini. Selama ini kami hanya bisa bertemu secara sembunyi-sembunyi di tempat ini. 

Aku sudah bertunangan dengan kekasih ku, sementara Evan akan menikah dua bulan lagi. Kami tidak mungkin menjalin hubungan seperti satu tahun lalu saat dimana kami bisa bebas memadu kasih diluar sana. Sekarang apartemen murah ini menjadi saksi bisu betapa besar cinta kami. 

"Apa kita akan terus seperti ini.” Ucapnya lirih sembari mengeratkan pelukannya. Aku dan dia kini sudah berbaring di atas pembaringan dan saling berpelukan.

“Tidak akan ada yang tahu.. Kita akan tetap bisa seperti ini sampai kapanpun.” Ucapku lemah sembari merenggangkan pelukannya. 

Aku menatap lekat ke arah matanya. Matanya benar-benar hitam legam. Begitu bersih dan bersinar, untuk orang yang baru mengenalnya, sudah pasti mereka akan berfikir kalau dia adalah pria yang jujur.

“Tapi apa kamu tidak merasakan sakit?” Ucapnya lagi.
“Tentu ada rasa sakit. Tapi pasti akan jauh lebih sakit jika aku kehilangan cintamu dan dirimu.” Ucapku pelan. 

Ku eratkan lagi pelukanku padanya. Kurasakan sebuah kehangatan dan kedamaian dalam pelukannya. Kehangatan dan kedamaian yang sama sekali tidak pernah kurasan sebelumnya dari tunanganku. 

Detak jantungnya, aroma tubuhnya, belai lembutnya. Semua begitu sempurna untuk bumbu dari sesuatu yang disebut cinta.

“I Love U.” Ucapnya lembut sembari membelai mesra rambutku. 
“I Love U too.” Ucapku mesra. Tanpa terasa aku terlelap dalam pelukannya. 

Kelembutan dan kehangatan yang ia berikan mampu membuatku beralih ke dunia yang lain. Membawa kedalam lautan mimpi yang indah. Ke dalam dunia dimana aku dan dia bisa bebas menentukan jalan hidup kami. 

Tidak ada penjara atau kurungan yang membuat kami merasa terkekang. Tidak ada Dimas atau pun Lisa disana. Yang ada hanya aku dan Evan. 

Yang sedang terbuai dalam indahnya asmara dan kasih. Dan selalu berharap semoga aku tidak terbangun dan terus bisa merasakan mimpi indah ini.

***

Silaunya sinar mentari menembus jendela kaca kamar apartemen ini. Sayup-sayup ku kedipkan kedua mataku yang sedikit terasa nyeri. Saat aku membuka kedua mataku, tidak ku temukan sosok Evan disampingku. 

Ku kucek kedua mataku, untuk memastikan apa yang yang aku lihat. Dan benar saja, Evan memang sudah tidak ada disini. Dia sudah lebih dulu pergi tanpa membangunkan ku. 

Kulihat ada sepucuk surat diatas meja. Sepertinya Evan sengaja menulisnya untukku. Kuraih dan kubuka isi surat itu. Dan ternyata benar, Evan memang menulis surat itu untukku. 

Ku baca setiap bait tulisan tangannya. Susunannya begitu rapih, setiap kata yang tertulis disana bagai tombak yang saat ini sedang menusuk jantungku. Terasa nyeri dan sakit sekali. 

Air mataku perlahan menetes. Sesekali ku usap air mataku lalu kulanjutkan membaca suratnya. Air mata yang tadinya menetes perlahan, kini mengucur deras dari kedua mataku. Membasahi surat yang sedang aku baca. 

Setelah selesai membaca suratnya, kupejamkan kedua mataku. Ku genggam erat surat itu lalu ku tempelkannya di atas dadaku. Aku masih terus menangis deras dengan sedikit senyum mengambang di wajahku. “Terimakasih Evan, aku mencintaimu. Selamat natal.” Ucapku lirih. 

---oOo---

Cerita Pesta Malam Tahun Baru di Kampus

Contoh Cerita tentang Pesta Tahun Baru - Semilir angin berhembus lembut membelai rambut Mery. Rambutnya terurai oleh hembusan angina yang lembut, mengusik wajah mungilnya. Matanya menyipit lurus kedepan menatap sosok pria yang sudah lama ia kagumi.


Pria yang sudah membuat hatinya bertekuk lutut. Pria yang juga sudah dia tolak perasaannya. Dibawah pohon yang rindang didepan ruang kelas perkuliahan, Mery mengagumi sekaligus menyesal karena telah menolak sosok pria itu.

“Ooey!! Ngelamun aja lo!! Haha.” Ucap Devi sambil menepuk pundak Mery.
“Apaan sih lo devil, ngagetin gue aja.” Jawab Mery.

“Hahah lagi ngeliatin apaan lo? Si Evan? Haha dasar, kemaren lo tolak, sekarang lo nyesel. Gimana si lo ini.” Ucap Devi cukup panjang.
“Aduuuh Devil, jangan lo ingetin gue deh. Gue ngga mau nginget-nginget kejadian itu lagi.” Protes Mery.

“Ya lagian lo aneh si. Lo udah tau kalo lo juga cinta sama Evan, ngapain lo tolak coba?” Omel Devi. Mery hanya termenung sambil melihat ke bawah. Kakinya ia gerak-gerakan karena sudah mulai merasa gelisah.

“Takut sakit hati? Apa takut dikhianatin?” Ucap Devi lagi. Mery mengangkat wajahnya. Kakinya berhenti bergerak-gerak. Ia hanya mengangguk melihat wajah Devi. Tidak banyak kata yang bisa ia keluarkan.

“Hii dasar. Kalo ngga mau sakit hati jangan jatuh cinta! Udah ah yuk masuk kelas, dosen bentar lagi dateng nih.” Ucap Devi sambil menarik tangan Mery. Mery hanya pasrah mengikuti langkah Devi. 

Mereka berdua duduk di bangku paling depan sembari menunggu dosen datang. Tidak lama setelah mereka masuk, Evan ikut masuk ke dalam kelas. Dia sama sekali tidak menoleh kea rah Mery. 

Mungkin karena sakit hati karena sudah ditolak, hubunan Evan dan Mery jadi tidak sedekat dulu. Mata Mery menatap lekat kearah Evan yang sedang berjalan. Tidak dia biarkan sedikitpun pandangannya teralihkan dari seorang Evan. 

Seorang pria tampan dengan postur tubuh tinggi dan juga lesung pipit di pipinya ketika dia tersenyum. Perasaan menyesal kembali menyelimuti hati Mery setiap kali dia melihat sosok Evan. 

Ingin sekali rasanya Mery meminta maaf pada Evan dan kemudian menyatakan cinta padanya. Tapi besarnya rasa takut Mery dan bayangan masa lalunya membuat langkahnya untuk menjadi kekasih Evan harus terhenti.

Usai kelas perkuliahan selesai, Mery dan Devi berjalan menuju kantin seperti biasanya. Di kantin sudah ada Evan dan teman-temannya yang lain yang sudah lebih cepat langkahnya sampai ke kantin. 

Mery dan Devi memilih meja yang sedikit jauh dari meja Evan dan teman-temannya berkumpul. Devi tau kalau meja mereka dekat sudah pasti temannya ini akan tambah larut dalam kegalauan.

“Lo masih galau?” Tanya Devi.
“Dikit si.” Jawab Mery datar.
“Aduuh udah deh lo jangan mikirin dia lagi. Ngga tega gue ngeliatnya.”
“Ya elo jangan ngingetin gue sama dia dong.”

“Bukannya ngingetin Mery syantiks. Tapi lo nya aja yang tiap hari ngeliatin dia sambil bengong.” Ucap Devi panjang. Mery hanya terdiam karena matanya masih fokus lekat menatap ke arah Evan.

“Tu kaan..” Ucap Devi lagi.
“Ahh..ehh.. apa lo ngomong apa?” ucap Mery
“Kagak, tadi teh botol gue ada alkoholnya!.” Ucap Devi ketus.
“Ahaha aduh Devil sayaang.. maap ya, tadi lagi fokus hehe.” Ucap Mery sambil tertawa.

“Iya, iya. Oh iya, malam tahun baru lo mau kemana?” Tanya Devi.
“Ngga tau ini mau kemana. Lo sendiri?”

“Ya elah, jomblo kayak gue mah kagak ada acara. Palingan juga ke kampus ikut ngerayain ulang tahun bareng anak-anak.”

“Emang malem tahun baru ini dikampus ada acara?”
“Ya ada dong neng. Acaranya khusus dibikin buat menampung para jomblo kayak kita gini.”
“Oooh gitu. Yaudah deh gue ikut lo aja.” Ucap Mery dengan senyum yang sumringah.

Malam tahun baru yang ditunggu pun akhirnya tiba. Tampak Devy dan Mery sedang duduk di kursi yang sudah disediakan panitia kampus. Acara tambah ramai ketika para musisi kampus memainkan musiknya di atas panggung. 

Persiapan penyalaan kembang api pun sudah mulai riuh ketika sudah memasuki pukul 10 malam. Saat sedang duduk, Mery dikejutkan oleh suara yang datang dari panggung. 

Suara itu ternyata datang dari pria yang begitu ia kagumi. Siapa lagi kalau bukan Evan. Dengan penuh penghayatan Evan menyanyikan lagu dari Bruno Mars. 

Seolah lagunya hanya ditujukan untuk Mery seorang. Mata Mery berbinar ketika melihat Evan bernyanyi diatas panggung. Terlebih ketika tak sengaja mata mereka bertemu. Ada cinta yang bisa mereka rasakan. 

Begitu Evan selesai bernyanyi, dia langsung turun dari panggung dan berjalan ke arah Devi dan Mery. 

Dia duduk di samping Mery tanpa ada sepatah kata pun yang terucap. Suasana terasa hening untuk waktu yang cukup lama. 

“Kok lo dateng kesini juga?” Ucap Mery memecah keheningan.
“Iya lah, acara ini kan dibikin emang buat para Jomblo.” Jawab Evan.
“Oooh lo masih jomblo, kirain udah dapet pacar.” Ucap Mery dengan pandangan yang masih lurus ke depan.

“Masih belum nemu yang pas Mer.” Ucap Evan lirih.
“Maaf ya fan.” Ucap Mery begitu lirih. Dia menoleh kea rah Evan. Kini wajah pria yang dia kagumi tampak begitu dekat dengan mukanya.

“Eh Dev, gue ajakin Merry pergi dulu ya bentar.” Ucap Evan tiba-tiba dan langsung bangkit sembari menarik tangan Mery. Devi hanya bisa melongo melihat temannya ditarik oleh Evan. 

Mery pun tak bisa berbuat banyak selain pasrah dengan tarikan tangan Evan. Mereka berdua berjalan menuju tempat yang cukup sepi dan jauh dari keramaian.

“Kamu mau ngapain van?” Tanya Mery sembari menghentikan langkahnya. Evan berbalik dan kemudian menatap mata Mery lekat. Jantung Mery berdesir lembut. Ia bisa merasakan keteduhan dari mata Evan.

“Aku mau nembak kamu lagi.” Ucap Evan lirih. Mery hanya terdiam melihat perlakuan pria yang ia kagumi ini.

“Aku sadar aku masih belum bisa ngilangin rasa ini sama kamu Mer. Sempet kepikiran buat nyerah atas penolakan kamu kemarin. 

Tapi, rasa cinta ku sama kamu bikin aku lebih memilih memutuskan untuk terus berjuang dari pada harus menyerah. Aku sayang kamu Mer.” Ucap Evan tulus pada Mery. 

Tangannya memegang pundak Mery. Dan matanya tak sekali pun teralihkan dari mata Mery. Suasana terasa hening untuk sejenak. Mata mereka beradu untuk waktu yang lama. Saling mengagumi keindahan pahatan tangan Tuhan.

“Aku juga sayang kamu Van.” Tiba-tiba kejujuran keluar dari mulut mungil Merry. Tanpa bisa dikontrol, mulut Mery mengeluarkan kata-kata yang membuat hati Evan berbunga-bunga. 

“Makasih Mer.” Ucap Evan lirih. Tangannya menarik Mery masuk kedalam dekapannya. Evan memeluk erat tubuh Mery dan dirasakannya cinta yang tulus. Tepat pukul 00:01 dikampus ini, Evan dan Mery bisa merasakan indahnya cinta. 

Bisingnya suara kembang api yang berterbangan ke udara tidak mampu mengusik kedamain hati mereka. Di malam tahun baru ini, Mereka membuat langkah awal untuk menuju masa depan yang indah.

---Tamat---
Back To Top